Open Madiun - Dalam rangka menyambut bulan ramadhan 1433 H, Openmadiun berencana membagikan CD/DVD linux islami dari beberapa distributor linux. Kegiatan ini akan berlangsung dari tanggal 1 - 21 ramadhan 1433 H , dengan mengambil beberapa titik pembagian yang disebut polindes.
Yosep rusfendi, pengelola Openmadiun dot Com, menyatakan bahwa pembagian cd/dvd linux ini merupakan bentuk realisasi rencana pendirian polindes atau pos layanan linux desa dan sekolah. " rencananya polindes ini akan menjadi tiap titik layanan linux baik dalam bentuk distribusi informasi maupun layanan konsultasi." tuturnya. Dia juga menambahkan bahwa pembagian dvd/dvd linux ini salah satu upaya openmadiun.com untuk menggairahkan kembali kegiatan foss di kota madiun dan sekitarnya.
"DVD/CD Linux yang akan di bagian rencananya adalah sabily uhud 32 bit (varian ubuntu-red) sajadah 7.0 (varian blankon pattimura-red), comal linux (varian slackware - red ). Distro tersebut akan dibagikan dengan cara diambil di tiap titik yang akan di tentukan melalui email konfirmasi. ". Yosep juga menambahkan bahwa setidaknya ada empat titik yang akan ikut mendistribusikan dan direncanakan melakukan kegiatan layanan installasi sistem operasi linux di titik tersebut.
berita ini kami dapatkan dari salah satu mahasiswa politeknik negeri madiun.Hen y Satria, salah seorang praktisi linux, pun telah diminta oleh openmadiun untuk turut serta terlibat kegiatan ini untuk memberikan masukan untuk kelancaran kegiatan ini. " prinsipnya menyebarkan gnu/linux salah satu altarenatif cara dakwah yang masiv dan efektif. semoga dengan pemberian cd/dvd gratis ini bisa mengurangi angka penggunaan sistem operasi curian di madiun dan sekitarnya" tuturnya.
Kamis, 30 Mei 2013
Rabu, 29 Mei 2013
Politeknik LPP mempunyai empat program studi
Jogja (ANTARA Jogja) - Sekitar 60 persen lulusan pendidikan tinggi jalur vokasi Politeknik LPP Yogyakarta terserap bekerja pada industri perkebunan di seluruh Indonesia.
Untuk saat ini pemerintah sedang gencar2nya mendirikan politeknik negeri
"Hal itu menunjukkan lulusan yang kami hasilkan siap pakai untuk bekerja pada industri perkebunan," kata Direktur Politeknik LPP Galuh Banowati di Yogyakarta, Rabu.
Usai upacara wisuda 140 lulusan Politeknik LPP, ia mengatakan pihaknya berusaha menyelaraskan kompetensi lulusan sesuai dengan kebutuhan industri perkebunan.
"Lulusan tidak hanya dibekali dengan kecukupan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga memiliki karakter dan `personality` yang tangguh sesuai dengan yang dibutuhkan industri perkebunan," katanya.
Ia mengatakan penyiapan lulusan itu dimulai sejak mahasiswa berada pada tingkat awal dengan membentuk pribadi yang dapat memimpin diri sendiri.
Selanjutnya pada pertengahan studi membentuk pribadi yang dapat memimpin kelompok, dan pada akhir pendidikan mahasiswa dibentuk agar dapat memimpin masyarakat di lingkungannya.
"Penyiapan lulusan itu tidak terkepas dari peran industri perkebunan terkait, baik perkebunan milik negara (PTPN) maupun perkebunan swasta," katanya.
Menurut dia kerja sama pembentukan karakter lulusan itu berlanjut hingga perekrutan oleh industri perkebunan.
Kerja sama juga dilakukan dengan perekrutan awal melalui pemberian beasiswa mahasiswa tingkat akhir oleh PTPN, yang secara otomatis setelah lulus akan langsung bekerja pada perusahaan perkebunan negara tersebut.
"Pada 2013 Politeknik LPP merencanakan menjalin kerja sama dengan PTPN melalui penerimaan mahasiswa dengan pembiayaan program CSR perusahaan tersebut," katanya.
Ia mengatakan Politeknik LPP mempunyai empat program studi diploma tiga (D3), yakni Teknik Kimia, Teknik Mesin, Akuntansi, dan Budi Daya Tanaman Perkebunan. Lulusan program itu berhak menyandang gelar Ahli Madya (AMd).
"Pada 2010 Politeknik LPP melakukan pengembangan program dengan membuka Program Studi Budi Daya Tanaman Perkebunan jenjang diploma empat (D4). Lulusan program itu akan menyandang gelar Sarjana Sains Terapan (SST)," kata Galuh.
"Hal itu disebabkan kebutuhan tenaga kerja lulusan pendidikan tinggi perkebunan masih cukup tinggi. Banyak industri perkebunan yang masih membutuhkan staf lulusan pendidikan tinggi perkebunan," katanya.
(L.B015)
Untuk saat ini pemerintah sedang gencar2nya mendirikan politeknik negeri
"Hal itu menunjukkan lulusan yang kami hasilkan siap pakai untuk bekerja pada industri perkebunan," kata Direktur Politeknik LPP Galuh Banowati di Yogyakarta, Rabu.
Usai upacara wisuda 140 lulusan Politeknik LPP, ia mengatakan pihaknya berusaha menyelaraskan kompetensi lulusan sesuai dengan kebutuhan industri perkebunan.
"Lulusan tidak hanya dibekali dengan kecukupan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga memiliki karakter dan `personality` yang tangguh sesuai dengan yang dibutuhkan industri perkebunan," katanya.
Ia mengatakan penyiapan lulusan itu dimulai sejak mahasiswa berada pada tingkat awal dengan membentuk pribadi yang dapat memimpin diri sendiri.
Selanjutnya pada pertengahan studi membentuk pribadi yang dapat memimpin kelompok, dan pada akhir pendidikan mahasiswa dibentuk agar dapat memimpin masyarakat di lingkungannya.
"Penyiapan lulusan itu tidak terkepas dari peran industri perkebunan terkait, baik perkebunan milik negara (PTPN) maupun perkebunan swasta," katanya.
Menurut dia kerja sama pembentukan karakter lulusan itu berlanjut hingga perekrutan oleh industri perkebunan.
Kerja sama juga dilakukan dengan perekrutan awal melalui pemberian beasiswa mahasiswa tingkat akhir oleh PTPN, yang secara otomatis setelah lulus akan langsung bekerja pada perusahaan perkebunan negara tersebut.
"Pada 2013 Politeknik LPP merencanakan menjalin kerja sama dengan PTPN melalui penerimaan mahasiswa dengan pembiayaan program CSR perusahaan tersebut," katanya.
Ia mengatakan Politeknik LPP mempunyai empat program studi diploma tiga (D3), yakni Teknik Kimia, Teknik Mesin, Akuntansi, dan Budi Daya Tanaman Perkebunan. Lulusan program itu berhak menyandang gelar Ahli Madya (AMd).
"Pada 2010 Politeknik LPP melakukan pengembangan program dengan membuka Program Studi Budi Daya Tanaman Perkebunan jenjang diploma empat (D4). Lulusan program itu akan menyandang gelar Sarjana Sains Terapan (SST)," kata Galuh.
"Hal itu disebabkan kebutuhan tenaga kerja lulusan pendidikan tinggi perkebunan masih cukup tinggi. Banyak industri perkebunan yang masih membutuhkan staf lulusan pendidikan tinggi perkebunan," katanya.
(L.B015)
Selasa, 28 Mei 2013
ALUMNI Jurusan Tata Niaga Politeknik Negeri
ALUMNI Jurusan Tata Niaga Politeknik Negeri Lhokseumawe hingga 2012 sudah mencapai 1.378 orang. Mereka kini sudah bekerja di berbagai instansi pemerintahan dan swasta. Sebelum menyelesaikan pendidikan diploma tiga (D-II)I, mahasiswanya telah dibekali dengan kemampuan sesuai program studi (prodi) yang dipilih.
Semua orang punya tujuan untuk memudahkan pihak kampus mendapatkan produk software terbaru sesuai yang digunakan perbankan dan perusahaan lain untuk kebutuhan praktikum mahasiswa. Dikatakan pula juga menjalin kerja sama dengan sejumlah Perguruan tinggi lain di Indonesia. “Sehingga banyak lulusan kita selama ini yang mendapat tawaran bekerja di bank,” katanya.
Politeknik didirikan tahun 1985 melalui dana Bank Dunia XIII, yang berada di bawah naungan Universitas Syiah Kuala. Lalu, pada tahun 1998 menjadi kampus mandiri, Politeknik Negeri Lhokseumawe. Untuk mengembangkan misinya, Politeknik pada 2004 membuka jurusan Tata Niaga dengan tiga prodi yaitu prodi Akutansi, Keuangan Perbankan, dan Administrasi Bisnis.
“Sebelumnya prodi yang paling banyak diminati lulusan adalah prodi keuangan perbankan. Namun, sekarang prodi yang terbanyak mahasiswa adalah akutansi yang mencapai 160 orang,” kata Ketua Jurusan Tata Niaga Politeknik Negeri Lhokseumawe, Lukman SE MSiAk.
Untuk meningatkan kualitas lulusan, menurut Lukman, pihaknya selama ini terus memperbanyak berkerja sama dengan pihak perbankan di Aceh Utara dan Lhokseumawe, perusahaan sebagai tempat magang mahasiswa, dan sejumlah perusahaan yang memproduksi software.
Tujuannya adalah, memudahkan pihak kampus mendapatkan produk software terbaru sesuai yang digunakan perbankan dan perusahaan lain untuk kebutuhan praktikum mahasiswa. Dikatakan, pihaknya juga menjalin kerja sama dengan sejumlah Perguruan tinggi lain di Indonesia. “Sehingga banyak lulusan kita selama ini yang mendapat tawaran bekerja di bank,” katanya.
Ditambahkan, tahun 2010 pihaknya menambah satu prodi lagi, yaitu Perbankan Syariah. Untuk mendukung proses perkuliahan, menurutnya, ke empat prodi itu telah dilengkapi dengan sembilan ruang lab dan perpustakaan sebagai sarana pendukung. * jafaruddin
Semua orang punya tujuan untuk memudahkan pihak kampus mendapatkan produk software terbaru sesuai yang digunakan perbankan dan perusahaan lain untuk kebutuhan praktikum mahasiswa. Dikatakan pula juga menjalin kerja sama dengan sejumlah Perguruan tinggi lain di Indonesia. “Sehingga banyak lulusan kita selama ini yang mendapat tawaran bekerja di bank,” katanya.
Politeknik didirikan tahun 1985 melalui dana Bank Dunia XIII, yang berada di bawah naungan Universitas Syiah Kuala. Lalu, pada tahun 1998 menjadi kampus mandiri, Politeknik Negeri Lhokseumawe. Untuk mengembangkan misinya, Politeknik pada 2004 membuka jurusan Tata Niaga dengan tiga prodi yaitu prodi Akutansi, Keuangan Perbankan, dan Administrasi Bisnis.
“Sebelumnya prodi yang paling banyak diminati lulusan adalah prodi keuangan perbankan. Namun, sekarang prodi yang terbanyak mahasiswa adalah akutansi yang mencapai 160 orang,” kata Ketua Jurusan Tata Niaga Politeknik Negeri Lhokseumawe, Lukman SE MSiAk.
Untuk meningatkan kualitas lulusan, menurut Lukman, pihaknya selama ini terus memperbanyak berkerja sama dengan pihak perbankan di Aceh Utara dan Lhokseumawe, perusahaan sebagai tempat magang mahasiswa, dan sejumlah perusahaan yang memproduksi software.
Tujuannya adalah, memudahkan pihak kampus mendapatkan produk software terbaru sesuai yang digunakan perbankan dan perusahaan lain untuk kebutuhan praktikum mahasiswa. Dikatakan, pihaknya juga menjalin kerja sama dengan sejumlah Perguruan tinggi lain di Indonesia. “Sehingga banyak lulusan kita selama ini yang mendapat tawaran bekerja di bank,” katanya.
Ditambahkan, tahun 2010 pihaknya menambah satu prodi lagi, yaitu Perbankan Syariah. Untuk mendukung proses perkuliahan, menurutnya, ke empat prodi itu telah dilengkapi dengan sembilan ruang lab dan perpustakaan sebagai sarana pendukung. * jafaruddin
Politeknik Negeri harus Kreatif
JAKARTA, KOMPAS.com - Program pendidikan politeknik saat ini hanya menyelenggarakan program pendidikan diploma tiga hingga empat. Dengan keluarnya undang-undang tentang perguruan tinggi, politeknik dapat membuka layanan pendidikan sarjana, bahkan hingga strata tiga.
Politeknik Negeri harus Kreatif yang merupakan pengembangan dari Pusat Grafika Indonesia (Pusgrafin) yang telah memiliki reputasi yang baik dalam pengembangan dan pembinaan industri penerbitan dan grafika nasional. Institusi tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi inovasi pada era baru masyarakat modern Indonesia.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional, Djoko Santoso mengatakan, pendidikan tinggi vokasi harus diperkuat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan industri Indonesia. Dalam Rancangan Undang-Undang tentang Perguruan Tinggi (RUU PT) yang tengah dibahas di DPR, pendidikan tinggi vokasi, seperti politeknik, diberi peluang untuk membuka program master dan doktor terapan.
”Jika sudah ada payung hukumnya, tentu pemerintah akan menyiapkan politeknik negeri yang memenuhi syarat untuk membuka program master hingga doktor terapan. Terutama nantinya untuk memenuhi kebutuhan tenaga dan ahli profesional di bidang sains, teknik, dan pertanian,” ujar Djoko di Jakarta, Senin (10/10).
Secara terpisah, Direktur Politeknik Negeri Jakarta Prof Dr Johny Wahyuadi M Soedarsono DEA mengatakan, program sarjana yang diadakan politeknik tidak bertujuan menyaingi perguruan tinggi lain, seperti institut dan universitas.
”Program pendidikan ini lebih menekankan pada kemampuan praktik dan bertujuan menghasilkan lulusan yang siap pakai di industri,” ujarnya.
Lulusan jenjang sarjana (dari S-1 hingga S-3) yang diadakan politeknik merupakan sarjana terapan. Materi pelajaran yang diberikan berkomposisi sebanding atau 50:50 antara teori dan praktik, sedangkan di universitas lebih banyak teori.
Banyak peminat
Pendidikan siap pakai pada jenjang yang lebih tinggi ini, menurut Johny, akan banyak diminati, baik oleh siswa maupun industri. ”Tahun ini lulusan SLTA yang berminat masuk program diploma Politeknik Negeri Jakarta lebih dari 10.000 orang, tetapi yang bisa ditampung saat ini tidak sampai 2.000 siswa,” ujar Johny.
Karena itu, ia berharap ada peningkatan jumlah politeknik di Indonesia. Di China, misalnya, untuk mendukung industri, dalam lima tahun terakhir terjadi lonjakan jumlah politeknik dari 432 pada 1998 menjadi 1.176 pada 2003.
Bambang Wasito Adi, Direktur Politeknik Negeri Media Kreatif, Jakarta, mengatakan, lulusan perguruan tinggi yang siap pakai oleh industri harus diperbanyak. Begitu pun doktor di pendidikan tinggi vokasi harus diperkuat supaya riset-riset terapan yang dilakukannya sesuai dengan kebutuhan industri.
Politeknik Negeri Media Kreatif merupakan pengembangan dari Pusat Grafika Indonesia (Pusgrafin) yang telah memiliki reputasi yang baik dalam pengembangan dan pembinaan industri penerbitan dan grafika nasional. Institusi tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi inovasi pada era baru masyarakat modern Indonesia. (YUN/ELN)
Politeknik Negeri harus Kreatif yang merupakan pengembangan dari Pusat Grafika Indonesia (Pusgrafin) yang telah memiliki reputasi yang baik dalam pengembangan dan pembinaan industri penerbitan dan grafika nasional. Institusi tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi inovasi pada era baru masyarakat modern Indonesia.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional, Djoko Santoso mengatakan, pendidikan tinggi vokasi harus diperkuat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan industri Indonesia. Dalam Rancangan Undang-Undang tentang Perguruan Tinggi (RUU PT) yang tengah dibahas di DPR, pendidikan tinggi vokasi, seperti politeknik, diberi peluang untuk membuka program master dan doktor terapan.
”Jika sudah ada payung hukumnya, tentu pemerintah akan menyiapkan politeknik negeri yang memenuhi syarat untuk membuka program master hingga doktor terapan. Terutama nantinya untuk memenuhi kebutuhan tenaga dan ahli profesional di bidang sains, teknik, dan pertanian,” ujar Djoko di Jakarta, Senin (10/10).
Secara terpisah, Direktur Politeknik Negeri Jakarta Prof Dr Johny Wahyuadi M Soedarsono DEA mengatakan, program sarjana yang diadakan politeknik tidak bertujuan menyaingi perguruan tinggi lain, seperti institut dan universitas.
”Program pendidikan ini lebih menekankan pada kemampuan praktik dan bertujuan menghasilkan lulusan yang siap pakai di industri,” ujarnya.
Lulusan jenjang sarjana (dari S-1 hingga S-3) yang diadakan politeknik merupakan sarjana terapan. Materi pelajaran yang diberikan berkomposisi sebanding atau 50:50 antara teori dan praktik, sedangkan di universitas lebih banyak teori.
Banyak peminat
Pendidikan siap pakai pada jenjang yang lebih tinggi ini, menurut Johny, akan banyak diminati, baik oleh siswa maupun industri. ”Tahun ini lulusan SLTA yang berminat masuk program diploma Politeknik Negeri Jakarta lebih dari 10.000 orang, tetapi yang bisa ditampung saat ini tidak sampai 2.000 siswa,” ujar Johny.
Karena itu, ia berharap ada peningkatan jumlah politeknik di Indonesia. Di China, misalnya, untuk mendukung industri, dalam lima tahun terakhir terjadi lonjakan jumlah politeknik dari 432 pada 1998 menjadi 1.176 pada 2003.
Bambang Wasito Adi, Direktur Politeknik Negeri Media Kreatif, Jakarta, mengatakan, lulusan perguruan tinggi yang siap pakai oleh industri harus diperbanyak. Begitu pun doktor di pendidikan tinggi vokasi harus diperkuat supaya riset-riset terapan yang dilakukannya sesuai dengan kebutuhan industri.
Politeknik Negeri Media Kreatif merupakan pengembangan dari Pusat Grafika Indonesia (Pusgrafin) yang telah memiliki reputasi yang baik dalam pengembangan dan pembinaan industri penerbitan dan grafika nasional. Institusi tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi inovasi pada era baru masyarakat modern Indonesia. (YUN/ELN)
Senin, 27 Mei 2013
Kebakaran hutan saradan
Salah satu mahasiswa politeknik negeri Madiun bermukim di sekitar Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan Saradan, Jawa Timur yang saat ini mewaspadai wilayah hutan di tepi jalan raya karena rawan kebakaran.
"Kebakaran kerap mengancam hutan yang berdekatan dengan jalan raya. Kondisi tersebut terjadi karena pengguna jalan teledor dan membuang puntung rokok sembarangan hingga memicu kebakaran. Jika tidak dipadamkan bisa meluas," kata Wakil Administratur KPH Saradan Andik Iswindarto.
Menurut dia, wilayah hutan yang rawan kebakaran saat musim kering seperti ini antara lain BKPH Petung, BKPH Wilangan Utara, serta BKPH Jati Ketok Utara. Wilayah hutan tersebut terletak di pinggir jalan nasional ruas Saradan-Wilangan.
"Kebakaran hutan di wilayah pinggir jalan raya ini yang terakhir terjadi pada pekan lalu, tepatnya di daerah Petung.Beruntung kebakaran tidak meluas, hanya sekitar setengah hektare saja dan sudah dapat dipadamkan. Tidak ada kerugian material karena api hanya membakar semak dan bukan pohon jati yang sudah dewasa," terang Andik.
Secara total, lanjutnya, kasus kebakaran hutan di wilayah KPH Saradan tahun ini hanya melanda sekitar 8,5 hektare. Itupun semuanya terjadi di hutan jati yang telah berumur dewasa, sehingga tidak mati.
"Sejauh ini belum ada kerugian material, namun kami terus mengantisipasi agar kebakaran tidak meluas. Jika kebakaran tersebut melanda pohon jati berumur lima tahun ke bawah pasti pohonnya mati dan rugi," kata dia.
Guna mengantisipasi kebakaran hutan, selama musim kering ini pihaknya telah membangun tiga posko di hutan yang terletak di jalur jalan provinsi. Petugas yang ada di posko ini siap diterjunkan sewaktu-waktu jika terjadi kebakaran hutan.
Posko tersebut juga dilengkapi mobil pemadam kebakaran atau damkar. Mobil tersebut merupakan modifikasi petugas KPH Saradan yang dilengkapi dengan tangki air di bak belakangnya.
"Kapasitas air di mobil damkar tersebut mencapai 1.200 liter. Paling tidak bisa digunakan sekitar 30 menit untuk melumpuhkan api. Kami juga minta warga tidak membuang puntung rokok sembarangan," tambahnya.
Selain mobil damkar modifikasi, pihaknya juga menyiapkan satgas damkar. Satgas ini terdiri dari petugas Perhutani serta masyarakat sekitar hutan. Anggota satgas ini bertugas untuk menjaga hutan Saradan dari ancaman kebakaran selama musim kering terjadi.
Pihaknya memprediksi, intensitas kebakaran hutan akan mulai menurun pada pertengahan Oktober mendatang sebab musim hujan akan segera tiba. Wilayah hutan KPH Saradan mencapai 34 ribu hektare yang terdapat di Kabupaten Madiun, Nganjuk, Ngawi, dan Bojonegoro.
"Kebakaran kerap mengancam hutan yang berdekatan dengan jalan raya. Kondisi tersebut terjadi karena pengguna jalan teledor dan membuang puntung rokok sembarangan hingga memicu kebakaran. Jika tidak dipadamkan bisa meluas," kata Wakil Administratur KPH Saradan Andik Iswindarto.
Menurut dia, wilayah hutan yang rawan kebakaran saat musim kering seperti ini antara lain BKPH Petung, BKPH Wilangan Utara, serta BKPH Jati Ketok Utara. Wilayah hutan tersebut terletak di pinggir jalan nasional ruas Saradan-Wilangan.
"Kebakaran hutan di wilayah pinggir jalan raya ini yang terakhir terjadi pada pekan lalu, tepatnya di daerah Petung.Beruntung kebakaran tidak meluas, hanya sekitar setengah hektare saja dan sudah dapat dipadamkan. Tidak ada kerugian material karena api hanya membakar semak dan bukan pohon jati yang sudah dewasa," terang Andik.
Secara total, lanjutnya, kasus kebakaran hutan di wilayah KPH Saradan tahun ini hanya melanda sekitar 8,5 hektare. Itupun semuanya terjadi di hutan jati yang telah berumur dewasa, sehingga tidak mati.
"Sejauh ini belum ada kerugian material, namun kami terus mengantisipasi agar kebakaran tidak meluas. Jika kebakaran tersebut melanda pohon jati berumur lima tahun ke bawah pasti pohonnya mati dan rugi," kata dia.
Guna mengantisipasi kebakaran hutan, selama musim kering ini pihaknya telah membangun tiga posko di hutan yang terletak di jalur jalan provinsi. Petugas yang ada di posko ini siap diterjunkan sewaktu-waktu jika terjadi kebakaran hutan.
Posko tersebut juga dilengkapi mobil pemadam kebakaran atau damkar. Mobil tersebut merupakan modifikasi petugas KPH Saradan yang dilengkapi dengan tangki air di bak belakangnya.
"Kapasitas air di mobil damkar tersebut mencapai 1.200 liter. Paling tidak bisa digunakan sekitar 30 menit untuk melumpuhkan api. Kami juga minta warga tidak membuang puntung rokok sembarangan," tambahnya.
Selain mobil damkar modifikasi, pihaknya juga menyiapkan satgas damkar. Satgas ini terdiri dari petugas Perhutani serta masyarakat sekitar hutan. Anggota satgas ini bertugas untuk menjaga hutan Saradan dari ancaman kebakaran selama musim kering terjadi.
Pihaknya memprediksi, intensitas kebakaran hutan akan mulai menurun pada pertengahan Oktober mendatang sebab musim hujan akan segera tiba. Wilayah hutan KPH Saradan mencapai 34 ribu hektare yang terdapat di Kabupaten Madiun, Nganjuk, Ngawi, dan Bojonegoro.
Minggu, 26 Mei 2013
Politeknik Negeri Madiun mendapat titik terang
Proses penegerian Politeknik Madiun mulai mendapat titik terang.Wali kota Bambang Irianto pada Senin 26-04-2010 lalu sudah mendapat kepastian soal status negeri,setelah berkonsultasi dengan Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendiknas di Jakarta.Hasilnya,ada lampu hijau untuk penegerian politeknik.''Pertemuan dengan Dikti membuahkan hasil bagus.Lampunya sudah menyala hijau dan sudah nggak ada masalah lagi soal penegerian politeknik,''tegas Bambang Irianto,kemarin.
Bulan depan,lanjut Bambang,tim Dikti berencana datang ke Kota Madiun.Agendanya,meninjau lokasi khususnya lahan 10 hektare yang disiapkan Pemkot Madiun di kawasan ring road barat.Bersamaan dengan perubahan dari swasta menjadi negeri,Politeknik Madiun yang sekarang ada di Jalan Serayu,pindah ke lokasi baru. ''Kami sudah ada rencana,Politeknik pindah ke kawasan technopark yang saya sudah siapkan di kawasan ring road,''papar wali kota. Di kawasan technopark itu,juga bakal dibangun perguruan tinggi ilmi perkeretaapian yang saat ini masih dalam proses penjajakan.Selain itu,saat ini sudah ada SMA Negeri 3 yang statusnya bertaraf internasional.''Madiun wilayah barat memang dikonsep khusus technopark,''jelasnya.
Kendati demikian,untuk mendapatkan status negeri itu masih butuh tahapan lagi yang dilalui.Yakni,Pemkot Madiun harus menunggu hasil uji materiil UU 9/2009 tentang Badan Hukum Pendidikan(BHP).''Ya tunggu payung hukumnya,UU BHP,''tuturnya. Di sisi lain,perubahan status menjadi negeri diperkirakan akan membawa dampak besar bagi warga kota.Di antaranya,semakin majunya kawasan Kota Madiun bagian barat.Selain itu,ada dampak bisnis rumah kos yang bisa menjadi bisnis alternatif menjanjikan.''Tapi tentunya rumah kos yang tidak melanggar aturan dong,'' tandasnya.
Soal kapan kepastian penegerian politektik atau poltek,Bambang tak bisa memberikan kepastian.Namun, dari hasil konsultasi ini,kemungkinan besar tahun ini, atau paling lambat 2011.''Maksimal tahun depan lah,'' tandasnya.
Terpisah,Suwasono,Direktur Politeknik Negeri Madiun saat dikonfirmasi mengatakan lampu hijau adalah kabar baik. Sebab,kejelasan soal penegerian ini ditunggu. Dikatakan,tahun 2009 masih diprioritaskan untuk Politeknik Manufaktur, Polman Timah, Bangka Belitung. Selanjutnya,tahun ini ada lima yang mengajukan,dan Politeknik Madiun satu di antaranya yang menjadi prioritas Kemendiknas.''Informasi dari Pak Bambang Politeknik Madiun mendapat skala prioritas,''tuturnya.
Dikatakan,sebagai bentuk keseriusan pihaknya sudah melaporkan ke Kemendiknas soal aset dan naskah akademis,pada Maret lalu.Itu sebagai salah satu persyaratan menuju penegerian,yang dilaporkan di antaranya, jumlah peralatan, gedung, dosen, mahasiswa
Bulan depan,lanjut Bambang,tim Dikti berencana datang ke Kota Madiun.Agendanya,meninjau lokasi khususnya lahan 10 hektare yang disiapkan Pemkot Madiun di kawasan ring road barat.Bersamaan dengan perubahan dari swasta menjadi negeri,Politeknik Madiun yang sekarang ada di Jalan Serayu,pindah ke lokasi baru. ''Kami sudah ada rencana,Politeknik pindah ke kawasan technopark yang saya sudah siapkan di kawasan ring road,''papar wali kota. Di kawasan technopark itu,juga bakal dibangun perguruan tinggi ilmi perkeretaapian yang saat ini masih dalam proses penjajakan.Selain itu,saat ini sudah ada SMA Negeri 3 yang statusnya bertaraf internasional.''Madiun wilayah barat memang dikonsep khusus technopark,''jelasnya.
Kendati demikian,untuk mendapatkan status negeri itu masih butuh tahapan lagi yang dilalui.Yakni,Pemkot Madiun harus menunggu hasil uji materiil UU 9/2009 tentang Badan Hukum Pendidikan(BHP).''Ya tunggu payung hukumnya,UU BHP,''tuturnya. Di sisi lain,perubahan status menjadi negeri diperkirakan akan membawa dampak besar bagi warga kota.Di antaranya,semakin majunya kawasan Kota Madiun bagian barat.Selain itu,ada dampak bisnis rumah kos yang bisa menjadi bisnis alternatif menjanjikan.''Tapi tentunya rumah kos yang tidak melanggar aturan dong,'' tandasnya.
Soal kapan kepastian penegerian politektik atau poltek,Bambang tak bisa memberikan kepastian.Namun, dari hasil konsultasi ini,kemungkinan besar tahun ini, atau paling lambat 2011.''Maksimal tahun depan lah,'' tandasnya.
Terpisah,Suwasono,Direktur Politeknik Negeri Madiun saat dikonfirmasi mengatakan lampu hijau adalah kabar baik. Sebab,kejelasan soal penegerian ini ditunggu. Dikatakan,tahun 2009 masih diprioritaskan untuk Politeknik Manufaktur, Polman Timah, Bangka Belitung. Selanjutnya,tahun ini ada lima yang mengajukan,dan Politeknik Madiun satu di antaranya yang menjadi prioritas Kemendiknas.''Informasi dari Pak Bambang Politeknik Madiun mendapat skala prioritas,''tuturnya.
Dikatakan,sebagai bentuk keseriusan pihaknya sudah melaporkan ke Kemendiknas soal aset dan naskah akademis,pada Maret lalu.Itu sebagai salah satu persyaratan menuju penegerian,yang dilaporkan di antaranya, jumlah peralatan, gedung, dosen, mahasiswa
Sabtu, 25 Mei 2013
Pilihan politeknik negeri lebih banyak daripada S1
Masih sering terngiang-ngiang di telinga banyak orang berkata Kenapa saya lebih pilih D3 politeknik negeri daripada S1..Secara S1 secara strata dan gelar lebih tinggi , begitu juga dengan kesempatan kerjanya tentu akan menduduki posisi lebih tinggi daripada D3. Ada banyak alasan sih. Yang jelas bukan karena tidak keterima di S1 yah.
Setelah resign dari Polban dan akhirnya ikut test di IT Telkom, pilihan saya memang tidak seperti calon mahasiswa pada umumnya,pilihan saya waktu itu kalau tidak salah, D3 Teknik Informatika, S1 Teknik Informatika, S1 Teknik Telekomunikasi, D3 Teknik Telekomunikasi. Dan akhirnya memang langsung diterima di pilihan pertama, yihaaa.. senang ? tentu lah senang. Karena itulah cita-cita saya dari awal, tidak
Sehiungga tidak ada beban tidak masuk S1 karena memang saya tidak memilihnya
... Begitu juga tuntunan orangtua, mending D3 dulu kuliahnya, lalu S1 lalu S2 (haha Aminn) supaya kemampuan praktis dan akademis nya dapat dua-duanya. Nah itulah inti alasan Kenapa saya memilih D3, Mengutip dari situs Kompas.com (baca Program Diploma Masih Dipandang Sebelah Mata ) disebutkan bahwa program diploma masih dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Hal itu bisa dilihat dari masih banyaknya lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) yang memilih melanjutkan studi ke jenjang sarjana (Budi Prasetyo Widyobroto, UGM). So, Sebaiknya lulusan SMK yang lebih menonjol di kemampuan motorik melanjutkan perkuliahan ke Diploma, agar semakin terlatih. Saya sendiri lulusan SMA sih, tapi saya rasa kemampuan saya pada saat itu kalah dibanding anak-anak SMK. hehehe…Makannya saya bertekad harus masuk diploma dulu.
Lanjut lagi, masih dari Kompas.com (baca Politeknik Pencetak Mahasiswa Siap Kerja) disebutkan bahwa bukan rahasia lagi jika banyak lulusan perguruan tinggi yang menganggur. Hal ini didasari kenyataan bahwa lapangan kerja rata-rata hanya mampu menyerap 37 persen lulusan perguruan tinggi. Namun berbeda halnya dengan lulusan politeknik yang lulusannya banyak dicari perusahaan.
Apalagi ya alasan berikutnya , mungkin menurutku kuliah D3 itu kayak karet, fleksibel, mau bekerja bisa, mau lanjut kuliah juga bisa. Apalagi kalau kuliah D3-S1 nya dengan biaya sendiri, secara.. setahu saya kuliah ekstensi itu pelaksanaannya malam hari, Ajiib kan
??
Langganan:
Postingan (Atom)